Berita Acemark



news
STARBUCKS DIDAFTAR SEBAGAI MEREK ROKOK OLEH STTC
- 2021-11-08 07:40:15

PT Sumatra Tobacco Trading Company (STTC) digugat oleh Starbucks Corporation ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena membuat rokok merek Starbucks.

STTC digugat oleh perusahaan asal Amerika Serikat, Starbucks Corporation. STTC yang merupakan perusahaan yang berkedudukan di Pematang Siantar, Sumatera Utara tersebut, digugat oleh Starbucks Corporation karena perusahaan rokok itu membuat merek rokok dengan nama Starbucks.

Berikut petitum Gugatan yang diajukan oleh Starbucks Corporation :

  1. Menerima gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
  2. Menyatakan bahwa Tergugat beriktikad tidak baik pada waktu mengajukan permintaan pendaftaran merek STARBUCKS No. Pendaftaran IDM000342818 di kelas 34 milik Tergugat.
  3. Membatalkan merek STARBUCKS No. Pendaftaran IDM000342818 dalam kelas 34 milik Tergugat dari Daftar Umum Merek dengan segala akibat hukumnya.
  4. Menyatakan merek STARBUCKS milik Penggugat sebagai merek terkenal.
  5. Memerintahkan kepada Turut Tergugat untuk tunduk dan taat pada putusan Pengadilan dalam perkara ini dengan melaksanakan pembatalan pendaftaran merek STARBUCKS No. Pendaftaran IDM000342818 di kelas 34 milik Tergugat dengan cara mencoret pendaftaran merek tersebut dari dalam Daftar Umum Merek dan mengumumkannya dalam Berita Resmi Merek sesuai dengan ketentuan Undang-undang Merek yang berlaku.
  6. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.

 

Berdasarkan Pangkalan Data Kekayaan Intelektual Indonesia Ditjen KI Kemenkumham, STTC mendaftarkan merek tersebut pada tanggal 10 September 2012, dan mengantongi hak merek hingga 10 September 2022, untuk melindungi barang yang termasuk dalam Kelas 34, yaitu meliputi:

“Segala macam rokok, rokok kretek, rokok putih, rokok klobot, kertas sigaret, tembakau, korek api (penyala-penyala).”.

Tidak dijelaskan mengapa Kemenkumham menerima merek Starbucks yang didaftarkan oleh STTC, padahal merek Starbucks sudah familiar untuk para pencinta kopi.

Analisa Hukum :

TENTANG INDONESIA MENGANUT ASAS FIRST TO FILE

Dalam pemberian hak atas Merek, dikenal dengan asas First to File yang pada umumnya diterapkan oleh negara-negara dengan sistem hukum Civil Law, termasuk Indonesia. Setiap orang yang ingin memperoleh perlindungan atas Merek yang dimilikinya, wajib mendaftarkan Mereknya terlebih dahulu kepada instansi terkait (dalam hal ini, Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual). Pemilik Merek yang telah memiliki Merek yang telah dikenal oleh masyarakat luas sekalipun tidak dapat memperoleh hak ekslusif atau perlindungan atas Merek yang ia miliki tanpa melakukan permohonan pendaftaran terlebih dahulu. Itulah yang dikenal dengan sebutan asas First to File.

Dalam First to File system, tidak dikenal siapa yang pertama kali menggunakan Merek, meskipun bukti-bukti valid telah menunjukkan penggunaan Merek pertama kali oleh orang tersebut. Pemilik Merek yang diakui dalam First to File system adalah pihak yang pertama kali mengajukan permohonan pendaftaran Merek yang memperoleh hak prioritas untuk mendapatkan pendaftaran Merek dan diakui sebagai pemilik Merek yang sah.

Pada kasus ini, Merek “Starbucks” untuk Kelas 34 milik PT Sumatra Tobacco Trading Company (STTC) memang telah terdaftar dalam Daftar Umum Merek Ditjen KI, yaitu sejak tanggal 20 Desember 2011,  sedangkan Merek “Starbucks” untuk Kelas 34 milik Starbucks Corporation baru diajukan permohonannya pertama kali pada tanggal 10 Juni 2020.

Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa “Hak atas Merek diperoleh setelah Merek tersebut terdaftar.”.Dalam penjelasan pasal tersebut, dinyatakan bahwa “Yang dimaksud dengan “terdaftar” adalah setelah Permohonan melalui proses pemeriksaan formalitas, proses pengumuman, dan proses pemeriksaan substantif serta mendapatkan persetujuan Menteri untuk diterbitkan sertifikat.”.

Dalam ketentuan Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa Hak atas Merek adalah hak ekslusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya.

 

TENTANG PERLINDUNGAN MEREK TERKENAL

Perlindungan terkait Merek terkenal secara global diatur dalam Paris Convention for the Protection of Industrial Property (“Paris Convention”) dan the Agreement on Trade-Related Aspects of Intelectual Property Rights (“TRIPS Agreement”).

Dalam Pasal 6bis ayat (1) Paris Convention, dinyatakan bahwa atas permintaan pihak yang berkepentingan,  dapat mengajukan penolakan atau pembatalan hak atas Merek, melarang penggunaan Merek yang merupakan reproduksi, tiruan, atau terjemahan, yang dapat menimbulkan kebingungan atau penggunaan yang terkenal di negara yang dimaksud yang digunakan sebagai Merek yang dimiliki oleh seseorang yang digunakan untuk tujuan yang identik atau barang serupa. Ketentuan-ketentuan ini juga berlaku apabila bagian essensial dari Merek tersebut merupakan reproduksi dari Merek terkenal tersebut atau suatu tiruan yang dapat menimbulkan kebingungan karenanya.

Selain itu, Pasal 16 ayat (2) TRIPS Agreement, menegaskan bahwa dalam menentukan apakah Merek tersebut terkenal maka harus mempertimbangkan pengetahuan Merek tersebut di sektor publik yang relevan, termasuk pengetahuan anggota yang bersangkutan yang diperoleh sebagai hasil dari promosi Merek dagang tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Starbucks Corporation merupakan kedai kopi yang mempunyai banyak cabang dan terkenal bukan hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh belahan dunia, dimana perusahaan ini mulai berdiri di Seatle, Amerika Serikat sejak tanggal 30 Maret 1971. Hingga September 2020, perusahaan ini memiliki 32.660 toko di 83 negara, termasuk 16.637 toko yang dioperasikan oleh perusahaan dan 16.023 berlisensi.

Di Indonesia, Starbucks Coffee yang merupakan kedai kopi asal Amerika Serikat tersebut mulai membuka toko pertamanya di Plaza Indonesia pada tanggal 17 Mei 2002. Saat ini sekiranya terdapat ratusan bahkan mendekati ribuan cabang yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia yang dijalankan oleh PT Mitra Adiperkasa Group.

Meskipun merek “Starbucks” milik Starbucks Corporation untuk melindungi barang yang termasuk dalam Kelas 34 di Indonesia baru diajukan pertama kali pertama kali pada tanggal 10 Juni 2020, namun Starbucks Corporation sebenarnya telah mengajukan pendaftaran Merek “Starbucks” di Kelas 30 sejak tanggal 30 Maret 2007.

Sebagai bentuk komitmen Indonesia yang turut meratifikasi Paris Convention dan TRIPS Agreement , pemerintah Indonesia sejak tahun 1992 telah melakukan perubahan maupun pencabutan terhadap undang-undang yang mengatur mengenai Merek untuk melindungi Merek terkenal.

Salah satu bentuk komitmen tersebut, yaitu penambahan pasal dalam ketentuan Pasal 21 ayat 1 huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa permohonan ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi syarat tertentu.

Bahwa mengacu kepada Pasal 17 ayat (2) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek persamaan jenis barang dapat ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut:

  1. sifat dari barang dan/atau jasa;
  2. tujuan dan metode penggunaan barang;
  3. komplementaritas barang dan/atau jasa
  4. kompetisi barang dan/atau jasa;
  5. saluran distribusi barang dan/atau jasa;
  6. konsumen yang relevan; atau
  7. asal produksi barang dan/atau jasa.

 

Sehingga, walaupun berada di kelas yang berbeda, namun dengan adanya istilah cross class yang telah diterapkan di Direktorat Merek, dimana kedua Merek dapat diajukan permohonan pendaftarannya di kelas yang berbeda, namun apabila dalam pemasarannya mempunyai kaitan yang erat dan memenuhi kriteria-kriteria di atas, maka perbedaan kelas barang dan/atau jasa tersebut harus diabaikan. 

TENTANG PENDAFTARAN ATAS DASAR ITIKAD TIDAK BAIK

Sebagaimana diketahui dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat salah satu petitum gugatan yang diajukan oleh Starbucks Corporation, yaitu meminta pembtalan Merek “Starbucks” untuk Kelas 34 milik PT Sumatra Tobacco Trading Company (STTC) atas dasar iktikad tidak baik.

Berdasarkan ketentuan Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa :”Permohonan ditolak jika diajukan oleh Pemohon yang beriktikad tidak baik”.

Lebih lanjut, dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 21 ayat (3) Undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang menyatakan bahwa

“Yang dimaksud dengan "Pemohon yang beriktikad tidak baik" adalah Pemohon yang patut diduga dalam mendaftarkan Mereknya memiliki niat untuk meniru, menjiplak, atau mengikuti Merek pihak lain demi kepentingan usahanya menimbulkan kondisi persaingan usaha tidak sehat, mengecoh, atau menyesatkan konsumen.

Contohnya Permohonan Merek berupa bentuk tulisan, lukisan, logo, atau susunan warna yang sama dengan Merek milik pihak lain atau Merek yang sudah dikenal masyarakat secara umum sejak bertahun-tahun ditiru sedemikian rupa sehingga memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yang sudah dikenal tersebut. Dari contoh tersebut sudah terjadi iktikad tidak baik dari Pemohon karena setidak-tidaknya patut diketahui adanya unsur kesengajaan dalam meniru Merek yang sudah dikenal tersebut.”

Untuk itu, dalam membuktikan adanya pendaftaran Merek “Starbucks” atas dasar itikad tidak baik oleh STTC perlu dibuktikan keterkaitan yang erat antara Merek “Starbucks” milik STTC dan Starbucks Corporation, misalnya peniruan, pengambilan market pasar, ataupun pemboncengan keterkenal Merek Starbucks Corporation yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan Starbucks Corporation.

TENTANG PEMBATALAN MEREK MELALUI GUGATAN PENGADILAN NIAGA

Berdasarkan ketentuan Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa gugatan pembatalan Merek dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan yang duatur dalam Undang-Undang ini. Dalam penjelasannya dinyatakan bahwa pihak yang berkepentingan antara lain pemilik Merek terdaftar, jaksa, Yayasan/Lembaga di bidang konsumen, dan majelis/Lembaga keagamaan.

Dalam ketentuan Pasal 76 ayat (2) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa pemilik Merek yang tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan setelah mengajukan permohonan pendaftaran Merek.

Dalam hal ini, meskipun Starbucks Corporation tidak memiliki Merek terdaftar di Kelas 34, namun dengan adanya permohonan pendaftaran Merek “Starbucks” di Kelas 34 dan Merek terdaftar di kelas-kelas lainnya milik Starbucks Corporation, sudah cukup mempunyai landasan (legal standing) Starbucks Corporation mengajukan gugatan pembatalan Merek “Starbucks” milik STTC di Kelas 34.

Selain itu, berdasarkan ketentuan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa tenggang waktu mengajukan gugatan pembatalan Merek paling lambat 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran Merek yang akan diajukan pembatalannya.

Sebagaimana diketahui, Merek “Starbucks” milik STTC di Kelas 34 telah terdaftar sejak tanggal 20 November 2011, artinya Starbucks Corporation telah lewat jangka waktu mengajukan, yaitu lebih dari 5 (lima) tahun terhitung tanggal pendaftaran Merek “Starbucks” milik STTC di Kelas 34.

Namun demikian, menurut ketentuan Pasal 77 ayat (2) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis memberikan ruang untuk pembatalan merek tanpa batas waktu jika terdapat unsur itikad tidak baik dan/atau Merek yang bersangkutan bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, moralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Sehingga, selama Starbucks dapat membuktikan adanya unsur itikad tidak baik dalam pendaftaran Merek “Starbucks” milik STTC di Kelas 34, maka jangka waktu pengajuan gugatan selama 5 (lima) tahun tersebut dapat dikesampingkan.

TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA DI LUAR PENGADILAN

Selain itu, para pihak yang bersengketa yaitu Starbucks Corporation dan STTC dapat menempuh perdamaian penyelesaian di luar pengadilan, karena UU Merek juga mengakui adanya pengalihan dan/atau lisensi hak atas Merek.

Sebagaimana diketahui, dalam ketentuan Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, dinyatakan bahwa pengalihan hak atas Merek dapat dilakukan dengan cara pewarisan, wasiat, wakaf, hibah, perjanjian, dan/atau sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan aturan ini, bisa saja diantara kedua belah pihak melakukan perdamaian dengan cara melakukan perjanjian jual-beli hak atas Merek ataupun memberikan hak atas Merek dengan dasar hibah.

Atau, perdamaian dapat pula dilakukan melalui pemberian lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang menyatakan bahwa pemilik merek terdaftar dapat memberikan lisensi kepada pihak lain untuk menggunakan Merek tersebut baik sebagian maupun seluruh barang dan/atau jasa. Lisensi yang dimaksud adalah izin yang diberikan oleh pemilik Merek terdaftar kepada pihak lain berdasarkan perjanjian secara tertulis sesuai peraturan perundang-undangan untuk menggunakan Merek terdaftar.

Sumber - sumber :

Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. 67 Tahun 2016 Tentang Pendaftaran Merek.

Lionita Putri Lobo, Indirani Wauran. 2021. Kedudukan Istimewa Merek Terkenal (Asing) Dalam Hukum Merek Indonesia. Masalah-masalah Hukum, Jilid 50 No. 1, Januari 2021, halaman 71-72.

https://news.detik.com/berita/d-5681035/selain-digugat-starbucks-perusahaan-rokok-sttc-juga-pernah-digugat-harley

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl5892/merek-terkenal-yang-tidak-terdaftar/

http://sipp.pn-jakartapusat.go.id/index.php/detil_perkara

https://en.wikipedia.org/wiki/Starbucks

https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/704/jbptunikompp-gdl-feniaamali-35187-1-unikom_f-i.pdf



logo

Chambers Asia's Leading Lawyers 2010 Band 3 for Intellectual Property



Berita Acemark


TIPS MUDAH MENDAFTARKAN MEREK DI MASA PANDEMI
- - 2021-11-08 07:45:17

Dalam situasi pandemi dengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membuat ruang gerak menjadi terbatas,...


STARBUCKS DIDAFTAR SEBAGAI MEREK ROKOK OLEH STTC
- - 2021-11-08 07:40:15

PT Sumatra Tobacco Trading Company (STTC) digugat oleh Starbucks Corporation ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena membuat rokok merek Starbucks.


SENGKETA MEREK GEPREK BENSU BERLANJUT KEPADA GUGATAN TATA USAHA NEGARA
- - 2021-11-08 05:22:17

Kasus sengketa perebutan Merek Geprek Bensu memasuki babak baru. Pihak Benny Sujono yang memiliki Merek ‘‘I am Geprek Bensu’‘ melayangkan gugatan...


Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2020 tentang Syarat dan Tata Cara Pencatatan Pengalihan Paten (Peraturan Pelaksana Pasal 74 UU No. 13 Tahun 2016 tentang Paten)
- - 2020-10-12 12:52:52

Hak atas paten pada dasarnya tidak hanya dapat dimiliki oleh inventor, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama, namun...


Rencana Pengahapusan Pasal 20 UU No. 13 Tahun 2016 tentang Paten melalui RUU Omnibus tetang Cipta Kerja
- - 2020-06-21 18:22:35

Pasal 20 Undang-Undang No. 13 Tahun 2016 tentang Paten terus menjadi isu hangat di dunia Kekayaan Intelektual. Hal ini dikarenakan banyaknya kritik terutama dari inventor asing yang mendominasi pendaftaran paten di Indonesia.