Berita Acemark



news
MANTAN PERSONEL MEMPERSOALKAN HAK CIPTA ATAS LOGO GRUP MUSIK SLANK
2019-04-15 00:00:00



Siapa yang tidak mengenal grup musik “SLANK”? Salah satu kelompok musik legendaris tanah air beraliran rock yang telah berdiri sejak tahun 1983 di Jakarta dan telah meluncurkan banyak album serta tidak lupa memiliki basis penggemar atau fans setianya yang dikenal dengan nama Slankers. Slank saat ini beranggotakan Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ridho (gitar), Abdee Negara (gitar), dan Ivanka (bass). Dalam perjalanannya, band ini telah mengalami pasang surut karier diantaranya bongkar pasang personel hingga ketergantungan beberapa orang anggotanya terhadap narkoba namun Slank hingga saat ini bisa tetap eksis dan telah menjadi inspirasi orang banyak lewat karya-karyanya serta tak lupa tentu saja lewat prestasi (award) yang mereka terima.

Beberapa waktu terakhir di jagad maya tersiar kabar mengenai salah satu mantan bassist Slank yaitu Bongky yang mempermasalahkan Hak Cipta logo atau lambang dari grup yang terkenal dengan lagu-lagu seperti Balikin, Kamu Harus Cepat Pulang, dan I Miss You But I Hate You ini. Bongky dalam video singkat yang diunggah pertama kali oleh Amin Bearland pada Kamis 10 Januari 2019 mempersoalkan logo yang digunakan Slank sejak album studio keempat mereka di tahun 1994 yang bertajuk “Generasi Biru”. Singkat cerita Bongky bercerita bahwa dirinyalah yang membuat logo yang sepintas mirip dengan hewan kupu-kupu tersebut selama 4 hari dengan pengorbanan hati dan darah, namun kini logo tersebut disalahgunakan oleh pihak-pihak lain untuk keperluan komersial tanpa seizinnya.
Lalu bagaimanakah tanggapan personel Slank saat ini soal hak cipta logo yang dipermasalahkan oleh Bongky tersebut?

Menurut Slank, mereka sadar bahwa penggunaan logo akan memicu masalah yang kompleks. “Kita punya permasalahan yang gak simpel sih. Kesalahan kita kompleks,” ujar Ivanka. Ditambahkan oleh sang vokalis yaitu Kaka saat ditemui awak media pada konser perayaan ulang tahun Slank ke-35 di GBK bahwa hak cipta logo Slank adalah hak Bongky yang di kemudian hari Kaka melakukan metamorfosa atau modifikasi terhadap logo Slank yang telah ada. Kaka bahkan berencana melakukan sayembara kepada Slankers dalam andil pembuatan logo Slank ini. “(Design logo) Slankers banyak yang keren-keren lagi. Cuma kita belum ada concern untuk album kapan,” sambung Kaka.

Dalam penelusuran penulis pada situs Indonesia Trademark Database yang dikeluarkan oleh Organisasi Hak Atas Kekayaan Intelektual Dunia atau World Intellectual Property Organization (WIPO), nama atau kata Slank telah terdaftar di Kelas 41: (Nama group musik; pemberian jasa-jasa hiburan (entertainment services) berupa Informasi hiburan, penyajian pertunjukan hidup) dengan Nomor Agenda IDM000234565 pada tanggal 28 Januari 2010 serta telah dipublikasikan pada tanggal 23 Mei 2008 dan berlaku selama 10 (sepuluh) tahun mendatang hingga tanggal 23 Mei 2018. Pada situs tersebut pula tercatat nama 2 orang pendiri Slank yakni Bimbim dan Kaka sebagai pemilik kata “Slank” dengan nama Bimo Setiawan Almachzumi dan Akhadi Wira Satriaji yang beralamat di Jl. Potlot III No. 14 RT 001 RW 003 Kelurahan Duren Tiga Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, serta menyerahkan Kuasa Hukumnya kepada Wawan Santoso, S.H., LL.M., yang beralamat kantor di Sudirman Plaza Office Tower Marein Plaza 12th Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 76-78, Jakarta 12910.

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada satu pun dari pihak Bongky sebagai mantan personel Slank yang mempermasalahkan Hak Cipta atas logo Slank ini maupun dari pihak Slank dan manajemennya yang membawa kasus ini ke ranah hukum sebab masih sebatas opini dan pendapat yang ramai berkembang di sosial media. Warganet pun ikut bereaksi baik pro dan kontra soal masalah hak cipta logo Slank ini dengan segala ucapan dan opini yang beranekaragam.

Analisa Hukum:

Dalam Pasal 1 Bab 1 Ketentuan Umum Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta bahwasannya Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak Cipta juga telah mengatur dengan jelas didalamnya berupa Hak Moral (Pasal 5, 6, dan 7 UU RI Nomor 28 Tahun 2014) dan Hak Ekonomi (Pasal 8 UU RI Tahun 2014).

Telah diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta perihal pasal pencipta memiliki atau mempunyai hak-hak moral yang dilindungi dan diatur sedemikian rupa, seperti tercantum pada Pasal 4 yang bunyinya bahwa Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Kemudian dalam Pasal 5 yang dalam pasal tersebut mengatur tentang Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri Pencipta untuk: tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum; menggunakan nama aliasnya atau samarannya; mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat; mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Dalam Pasal 98 masih di undang-undang yang sama telah dijabarkan pula soal pengalihan Hak Cipta atas seluruh Ciptaan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pencipta atau ahli warisnya untuk menggugat setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak dan tanpa persetujuan Pencipta yang melanggar hak moral Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1). Pengalihan hak ekonomi Pelaku Pertunjukan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pelaku Pertunjukan atau ahli warisnya untuk menggugat setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak dan tanpa persetujuan Pelaku Pertunjukan yang melanggar hak moral Pelaku Pertunjukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.

Sedangkan dalam pasal 1 angka 1 Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta berbunyi Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan adalah ketentuan yang melindungi Pencipta sejak ia melahirkan karyanya. Ini dapat diartikan bahwa segala karya cipta yang telah atau baru saja lahir berlaku sifat mutatis mutandis, dan kalau memang benar dan terbukti logo ciptaan Bongky, ia harus dapat membuktikan sebagaimana diatur dalam Pasal 39 ayat (4) Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta yang berbunyi: “Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak berlaku jika Pencipta dan/atau pihak yang melakukan Pengumuman dapat membuktikan kepemilikan atas Ciptaan tersebut.” Maka Bongky berhak mengajukan keberatan pada pihak-pihak lain yang memakai logo tanpa seijinnya melalui jalur hukum seperti somasi hingga gugatan.

Diluar semua itu, walau industri musik tanah air berkembang begitu pesat akan tetapi masih saja menyisakan “lubang” semisal pembajakan lagu yang tiada habisnya namun berkaca pada kasus Bongky dan logo Slank ini kita dapat berkaca bahwa diperlukan kematangan serta pengetahuan yang begitu luas perihal hukum didalam melahirkan suatu hasil karya yang dikenal masyarakat luas agar kasus serupa tidak terulang lagi baik di dunia musik atau dalam bidang-bidang yang lainnya.

Suumber-sumber:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Slank
2. https://www.wipo.int/branddb/id/en/
3. https://www.jabarpublisher.com/index.php/2019/01/12/viral-logo-slank-disoal/
4. https://www.jabarpublisher.com/index.php/2019/01/13/kisruh-logo-slank-begini-penjelasan-ahli-hki/
5. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis
6. Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta



logo

Chambers Asia's Leading Lawyers 2010 Band 3 for Intellectual Property



Berita Acemark


HAK MEREK BENSU DIPEREBUTKAN
- 2019-04-15 00:00:00

Dunia selebritis tanah air saat ini tumbuh dengan pesat seiring perubahan zaman. Setiap hari bisa dijumpai wajah-wajah pendatang baru di layar kaca baik itu penyanyi, bintang iklan atau pemain sinetron.


MANTAN PERSONEL MEMPERSOALKAN HAK CIPTA ATAS LOGO GRUP MUSIK SLANK
- 2019-04-15 00:00:00

Siapa yang tidak mengenal grup musik “SLANK”? Salah satu kelompok musik legendaris tanah air yang telah berdiri sejak tahun 1983 di Jakarta dan telah meluncurkan banyak album serta memiliki basis penggemar yang disebut Slankers.


Sengketa Merek Sepatu Onitsuka Tiger
- - 2017-06-16 00:00:00

Pernahkah anda mendengar Merek sepatu Onitsuka Tiger? konon katanya wisatawan yang bepergian ke Jepang serasa belum ke Jepang bila belum membeli sepatu Onitsuka Tiger.


PEREDARAN PARFUM MEREK "AXE" PALSU
- - 2017-03-22 00:00:00

Pemalsuan Produk di dalam negeri kini kian marak, tidak saja merugikan produsen produk asli, tapi juga berpengaruh kepada perekonomian secara menyeluruh.


Ditjen KI Meluncurkan Aplikasi Online Untuk Perpanjangan Merek Terdaftar dan Pendaftaran Hak Cipta
- - 2016-05-17 00:00:00

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia meluncurkan aplikasi daring atau online untuk perpanjangan merek terdaftar.